Posted in Traveling

Halo Hanoi

Entah kenapa setiap kali mendengar kata dari rangkaian 5 huruf ini terkesan syahdu di telinga saya. Saya suka kata Hanoi nuansanya terasa seperti kata honey.
😍 Xin Chao (Halo) Hanoi, saya datang!

image

Rabu, 12 Oktober 2016 pukul 06:30AM pesawat Air Asia AK 516 bertolak dari KLIA2  Malaysia, membawa saya mendarat  di Noi Bai International Airport, Hanoi – Vietnam, pukul 08:50AM (tidak ada beda waktu dengan WIB yaitu GMT+7). Saya bergegas berkumpul dengan 2 orang teman yang duduk terpisah dalam 1 pesawat. Setelah melalui pemeriksaan imigrasi dengan cepat (tidak ada hal-hal khusus seperti di Malaysia mesti finger scan & foto), kami mencari counter bank di hall kedatangan yang mempunyai kurs terbaik untuk menukar USD ke uang lokal VND. Mata uang Vietnam Dong tidak tersedia di money changer Jakarta sehingga saya menukar secukupnya. Untuk 6 hari saya menukar USD 100 menjadi VND 2.213.900, jadi banyak banget nih uangnya. Nilai ini kalau dikurs ke IDR lagi waktu saya beli USD berarti 0.59. Baiklah ini menjadi angka patokan perhitungan saya tiap kali akan membayar sesuatu dengan mata uang lokal. Saya pisahkan dompet untuk uang USD dan VND, nyesek kalau sampai salah ambil.

Bus no 86 warna kuning yang menunggu penumpang di depan pintu kedatangan terminal 2 internasional menjadi pilihan kami untuk mengantar ke Ga Hanoi. Transportasi publik ini cukup murah 30.000 VND (IDR 17.700) dan nyaman dilengkapi AC dan Wi-Fi dengan waktu tempuh sekitar 1 jam sampai ke tujuan akhir Ga Hanoi. Kondekturnya sangat informatif dan care. Memberikan map rute bus tak lupa menjelaskan saat menerima pembayaran dari penumpang. Dia akan selalu mendekat ke penumpang yang mayoritas adalah turis untuk memberitahu ketika sudah sampai di tujuan. Jika teman-teman ingin lebih irit ada bus dengan tarif 9.000 VND namun rute perjalanan lebih panjang, waktu tempuh lebih lama, angin cepoi-cepoi, dan tanpa Wi-Fi (hanya sampai Ga Long Bien). Jika ingin lebih nyaman lagi dan cepat pilihannya adalah taksi, taksi yang recomended warna hijau yaitu Mailinh Group selalu dengan argo.

Kami terlebih dulu ke Ga (railway station) Hanoi untuk menyewa loker sebelum mengeksplore kota Hanoi. Karena malam nanti kami tidak menginap di Hanoi, kami akan melakukan perjalanan malam ke kota Lao Cai dengan sleeper train SP1 yang berangkat dari Ga Hanoi. Sehingga barang-barang yang tidak diperlukan sementara saat mengeksplore kota Hanoi kami titipkan di loker stasiun ini. Sewa loker di Ga Hanoi 5.000 VND/jam, satu loker muat untuk menyimpan 2 carrier dan 1 daily pack.
Dengan panduan google maps kami berjalan kaki dari Ga Hanoi menuju kawasan Old Quarter menyusuri jalan serta gang dibawah teriknya matahari Oktober kota Hanoi. Suara klakson motor dan mobil tak henti-hentinya beradu seakan berlomba memekakkan telinga. Agak kikuk awalnya melipir dari satu tempat ke tempat lain karena lajur kendara negara Vietnam ada di sisi kanan dengan setir mobil di sisi kiri.

Meskipun banyak bangunan dan kendaraan tua yang lusuh namun saya tak menemukan pengemis dan pengamen di kota ini. Yang saya jumpai kebanyakan pedagang bertopi caping berlalu lalang menggunakan sepeda dengan tampah di belakang, ada juga yang berjalan memikul barang dagangan. Bangunan kecil, berdempet, dan bertingkat menjadi ciri khas kota Hanoi. Aktivitas warga ngopi-ngopi di bangku pendek depan ruko juga menjadi pemandangan khas disini.

Factory outlet yang menjual aneka pakaian dan ransel outdoor bertebaran disini. Merek The North Face bisa didapatkan dengan harga 1/3 hingga 1/4 dari harga produk original dengan kualitas yang tidak mengecewakan. Bisa menjadi catatan teman-teman pecinta outdoor jika berkunjung kesini tak perlu bawa pakaian banyak. Bawa saja uang yang banyak dan belanja sepuasnya jangan lupa pandai-pandai menawar.
Tak perlu galau ritual update status ke medsos terganggu karena tidak membeli sim card lokal. Saat turun pesawat tersedia Wi-Fi bandara, di bus juga free Wi-Fi, di jalan-jalan bahkan banyak Wi-Fi yang tidak diproteksi termasuk Vinatel operator telekomunikasi seluler Vietnam, apalagi kalau di kedai-kedai makan pasti ada Wi-Fi. Tapi untuk keperluan panduan jalan yang mengandalkan google map, sebaiknya membeli sim card lokal antisipasi jika tidak mendapatkan Wi-Fi yang tidak terproteksi. Jika terpaksa ingin berhemat tanpa beli sim card lokal pun kita bisa googling maps terlebih dahulu saat mendapat koneksi internet tempat yang akan kita cari kemudian screen shoot.

Setelah menyusuri kawasan Old Quarter, kami nge-brunch di Bun Cha Ta. Tempat makan yang cozy, adem maklum habis panas-panasan ‘nyetrit’ masuk ke ruangan dingin dengan desain interior agak-agak tradisional dengan plafon atap  kerajinan tangan berbahan bambu. Dari daftar menu yang kami baca disimpulkan bahwa ‘cha’ adalah pork. Ahhh, memang susah cari makanan halal 100% di negara ini. Paling-paling pesan menu makan vegetarian. Minuman yang mendominasi adalah kopi Vietnam (tentunya), teh hijau, dan bir lokal (namanya sesuai dengan kotanya misal: Bia Ha Noi, Bia Lao Cai). Saya menyarankan untuk pesan menu sharing karena porsi menu makanan di Vietnam besar, kenyang 1 porsi untuk berdua atau 2 porsi untuk bertiga. Haha, kami sempat bingung bagaimana cara makannya ketika disajikan 3 mangkok besar kuah panas, 3 piring ‘gundukan’ rice noodle (saking banyaknya mie bihun mirip kwetiaw), 2 piring spring roll (mirip lumpia goreng), 1 piring tahu berbumbu kuah nyemek, sebaskom aneka daun mentah seperti daun mint, selederi (banyak yang belum saya kenali), dan irisan cabe. Bukan ini bukan Pho mungkin masih sodaraan. “Ooo”, O aja ya kak hehe…reaksi kami setelah pelayan resto menjelaskan cara makan menu tersebut.

image

Mengunjungi Vietnam Museum of Ethnology adalah agenda selanjutnya. Ethnology selalu unik dan menarik bagi saya. Ada sekitar 54 etnis di Vietnam yang ada di museum ini. Dari foto, barang-barang yang biasa digunakan etnis, patung, rumah adat, hingga diorama. Tiket masuk museum 40.000 VND cukup puas untuk mendapatkan foto-foto unik disini. Mirip TMII tapi masih keren dan luas TMII sih. Indonesia memang juara kekayaan budayanya. Spot ini kebanyakan dikunjungi oleh turis Eropa yang sudah ‘berumur’. Perlu waktu yang tidak sebentar untuk menikmati dan mengerti isi sebuah museum tapi kami hanya berfoto-foto saja dan numpang istirahat sejenak di cafe sebelahnya. Mungkin nantinya bisa mencari referensi data di internet jika penasaran dengan obyek-obyek yang telah kami foto.

Kedai fast food adalah tempat paling pas jika ingin me-charge gadget-gadget yang sudah lowbattt. Dengan membeli minum di Lotteria di seberang Hoan Kiem Lake, kami manfaatkan colokan listrik disitu semaksimal mungkin dengan tambahan T. Meskipun tipe colokan listrik di Vietnam setipe dengan Indonesia tetapi mesti dipaksakan karena agak sesak.

Berdasarkan pengalaman makan sebelumnya, saat dinner kami memesan menu 1 porsi untuk bertiga ditambah seporsi nasi goreng dan……tetap saja tidak bisa ludes. Nasi putih datang terlambat tidak tersentuh. Heran nih, masih jadi pertanyaan sebenernya 1 porsi Vietnam itu untuk berapa orang?

Oya untuk mengeksplore Hanoi jika tidak tahu jalan dan rambu lalu lintas, tidak disarankan untuk menyewa motor. Saya perhatikan dari balik jendela taksi ada beberapa pengendara motor yang terkena razia lalu lintas oleh polisi. Jika traveling bersama 3-4 orang naik taksi menjadi pilihan paling nyaman dan relatif murah. Dari Bat Dan St (sekitaran Hoan Kiem Lake) ke Ga Hanoi tarifnya hanya 12.000 VND dibagi bertiga. Pantau google maps saat naik taksi untuk mengantisipasi terkena scam diputer-puterin jalannya oleh sopir. Jangan berat hati memberi tambahan uang tips untuk sopir dan tak lupa selalu ucapkan “cam on” [baca: kam’ euuuuun] alias terima kasih 🙂

Honey eh Hanoi, nantikan saya kembali!

Posted in Cooking

Nasi Goreng Teri Spesial Anak Kosan

Nasi goreng salah satu masakan khas Indonesia yang simple dan cepat cara memasaknya sehingga cocok dijadikan menu sarapan pagi, apalagi untuk golongan wajib nasi seperti saya. Tradisi simbok di kampung halaman kalau pagi hari punya sego wayu alias nasi kemarin yang masih melimpah biasanya dimodalin telur dan cabe dimasak nasi goreng untuk menu sarapan. Nah, tradisinya kebawa sama genduk di perantauan.

Kadang-kadang nasi catering jatah makan siang di kantor tersisa, maklumlah rekan-rekan kerja pada kemayu makannya sesuap duabelas suap jaga berat badan tapi kadang juga karena menunya yang nggak klop misalnya nasi dipasangin sama siomay jadinya nasi nggak tersentuh. Hari rabu (10/8/16) saya bawa pulang nasi dan menyiapkan menu sarapan rekan-rekan FA esok paginya. Ya, nasi goreng.

Saya anak kosan yang nggak bisa jauh dari dapur. Setiap mencari kosan salah satu hal yang harus ada adalah tempat memasak dan diijinkan memasak. Ribet ya, hmmm….nggak seribet yang ada di pikiranmu sob. Nggak setiap hari juga masaknya tapi kadang-kadang kangen masakan sendiri yang mbuh rasane. Ndilalah kok kebetulan ada juga yang kangen masakanku. Duh, asah pisau nih siap-siap kalo ada yang nyinyir 😠

Kali ini saya masak nasi goreng teri spesial anak kosan. Spesial maksudnya bukan pakai telor ceplok seperti pada umumnya, spesial bagi saya adalah banyak sayuran. Bahan-bahan seperti pada foto di atas:
~ nasi ex. catering kantor
~ 1/2 ons teri medan
~ 2 telor ayam
~ sayuran: wortel iris dadu kecil, buncis, sawi hijau
Sedangkan bumbu bawang putih keprak lalu cincang halus, cabe rawit iris tipis, daun bawang iris tipis, saos, kecap, garam, sedikit bumbu instant nasgor (biasanya 1 bungkus saya pakai 3 kali) hehe maklum masih amatiran masih ngandelin yang instant.

image

Bawang putih ditumis sampai harum menyusul teri medan hingga menguning. Kemudian buncis dan wortel tumis hingga setengah matang tambahkan irisan daun bawang.

image

Masukkan nasi sambil diaduk tambahkan bumbu nasi goreng instant, kecap, saos, garam dan cabe. Cabe tidak ditumis pada awal karena memancing bersin-bersin. Aduk rata sambil dicicip kalau sudah pas rasanya tambahkan daun sawi hijau, aduk lagi. Oya telor sengaja nggak dicampur nasi tapi diiris dadar karena ada teman yang pantang makan telur. Telor atau telur ya yang benar?

Begitulah cara memasaknya serba diiris nggak perlu diuleg, cocok buat anak kosan yang suka kelaparan tengah malam tapi males keluar cari makan. Kalo nungguin abang nasgor nggak lewat-lewat, ini saatnya berkreasi di dapur.

don’t stick to rules when cooking, rely on your imagination

image

Penampakan nasi goreng yang saya bawa ke kantor. Ludes seketika dimakan rame-rame nyammm…enak atau lapar ya yang benar?

Posted in Traveling

Ciptagelar, Peradaban Atas di Taman Nasional Gunung Halimun

Sudah tidak bisa ditahan lagi  saya ingin menginjakkan kaki di tanah Kampung Gede Kasepuhan Ciptagelar di gunung Halimun, Sukabumi, Jawa Barat. Setiap kali membuka IG teracuni gambar-gambar yang di upload kang Yoyo. “Emas menghampar” di Ciptagelar sepertinya tak kalah menarik dari terasering cantik Sa Pa, Vietnam Utara yang mencuri perhatian turis dengan etnis Hmong-nya.

Perempuan-perempuan bersarung batik, memakai topi anyaman bambu lebar di antara hamparan bulir padi keemasan yang merunduk, masanya untuk dituai. Lelaki berbaju hitam, memakai ikat kepala memikul ikatan padi melalui jalan setapak diantara huma. Pemandangan yang saya dapat dari sebuah saung di atas jejeran leuit Ciptagelar.

image

image

Lebih dari itu, ada nilai-nilai kehidupan sebagai pembelajaran berkunjung ke sebuah kampung yang masyarakatnya memegang teguh adat budaya dari karuhun atau leluhurnya. Ciptagelar berarti terbuka atau pasrah. Sesuatu yang menjadi wangsit dari karuhun harus dilaksanakan sebagai wujud kepatuhan dan kesetiaan.

Padi diperlakukan istimewa disini. Sebagai sumber kehidupan, menjual padi hasil panen masyarakat Ciptagelar adalah sebuah pantangan. Sama halnya menjual kehidupan mereka.

Konsep bertanam padi warisan leluhur Kasepuhan Ciptagelar tanpa pupuk dan pestisida. Mengandalkan perhitungan perbintangan (astronomi). Abah Ugi sebagai tetua adat yang memutuskan kapan waktu yang tepat untuk mulai bertanam padi dan menuai hasilnya. Siklus bertanam padi setahun sekali inilah yang akan memutus kehidupan hama.

Konsep bertanam padi tersebut diusung ke kancah internasional. Kang Yoyo mewakili Kasepuhan Ciptagelar menerima penghargaan The First Eco Medal untuk kategori Ecological Life dalam acara Dutch Design Week 2015. Sebuah acara pameran desain, seni, dan teknologi terbaru yang diadakan setiap tahun di kota Eindhoven, Belanda.

“Ada keturunan Neil Amstrong hadir di acara DDW” kata kang Yoyo,  nonton bareng siaran CigaTV, stasiun tv lokal yang konten acaranya tentang kehidupan masyarakat Ciptagelar. Penerapan adat istiadat dalam kehidupan sehari-hari dan kesenian tradisional dapat terdokumentasi dan diteruskan ke generasi muda melalui siaran CigaTV. Selain tv, juga ada radio yang dikelola sendiri.

Itu nyentriknya Kasepuhan Ciptagelar berpegang teguh pada adat dan memilah-milih modernisasi yang bisa bersanding harmoni dengan adat karuhun. Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro yang menyuplai kebutuhan listrik desa Ciptagelar pun dikelola masyarakat sendiri. Penggunaan drone rakitan untuk memantau kondisi hutan adat bukan sekedar gaya-gayaan kekinian di sosial media. Di balik gunung, terpencil, namun komunikasi dengan dunia luar tidak terhalang karena sinyal internet HSPA+ di desa ketinggian 1050 mdpl.

Tamu Ciptagelar datang dari penjuru dunia dan pelosok tanah air, meskipun akses menuju kampung gede ini masih offroad. Dengan dijemput ojek warga Ciptagelar, saya menempuh perjalanan selama 3 jam dari Pelabuhan Ratu. Rasanya seperti menunggang kuda terpental-pental naik turun di jalan berbatu yang berkelok. Sempat berhenti 2 kali, singgah kampung Ciptarasa, Desa Sirnarasa untuk istirahat sebentar dan di sebuah saung antara Ciptarasa – Ciptagelar untuk menunggu hujan reda.

‘Pusat pemerintahan’ Kasepuhan sebelumnya ada di kampung Ciptarasa, Desa Sirnarasa karena wangsit dari leluhur (karuhun) maka pada tahun 2001 dipindahkan ke Desa Sirnaresmi dengan nama Kampung Gede Kasepuhan Ciptagelar. Rumah di Ciptarasa masih terawat apik dan bersih. Tamu juga diperbolehkan menginap disini.

Kedatangan saya bertepatan dengan acara syukuran ulang tahun ke tujuh putra Abah. Lomba menggambar anak-anak, pesta potong kue, dan panggung hiburan musik modern meramaikan suasana imah gede. Di imah gede ini biasanya tamu menginap tetapi saya dan Iis, teman perjalanan saya, dipersilakan menginap di rumah kang Yoyo yang lebih tenang suasananya.

Rumah panggung yang terasnya dipenuhi perangkat gamelan Sunda. Kamar mandi di desain unik dengan menempelkan botol-botol bekas di temboknya. Perpaduan tradisional dan modern, air terus mengalir dari lereng gunung dan kloset sudah menggunakan kloset duduk. Tungku berbahan bakar kayu masih dipertahankan, menyala setiap harinya tapi kompor gas juga digunakan. Satu hal yang paling pantang bagi kasepuhan Ciptagelar adalah menggunakan atap genteng. Karena genteng berasal dari tanah yang posisinya di bawah, tempat berpijak. Menggunakan genteng untuk rumah ibarat terkubur.

image
Seperti masyarakat Ciptagelar, disini perempuan memakai kain/sarung batik, lelaki memakai ikat kepala

Kami berkesempatan menikmati jamuan makan malam bersama para baris kolot. Baris kolot adalah semacam penasehat untuk tetua adat Setelah didoakan abah dan perwakilan dari baris kolot, makanan yang tersaji boleh disantap. Ngariung di imah gede menyantap hasil masakan emak-emak berupa nasi (organik lho, nggak ada beras palsu), acar kuning, bihun, ayam kuah bening cabe hejo (saya ambil cabe hijau aja), telur balado, dan aneka bubur.

image
makan bareng di imah gede

Ambil makanan secukupnya jangan sampai ada yang tersisa di piring. Oya letakkan piring di lantai pada saat makan jangan diangkat. Itu pesan-pesan dari salah seorang tamu Ciptagelar yang datang sebelum saya. Pamali katanya.

Semakin malam semakin riuh suasana di imah gede. Sang tetua adat ikut meramaikan panggung dengan membetot bass bersama band anak-anak muda. Sementara ma’ alit, panggilan istri abah, menyanyi di pendopo imah gede. Emak-emak tak mau ketinggalan berjoget di depan panggung.

image

Sayang sekali saya melewatkan acara panen raya di Legok, karena harus kembali ke Jakarta. Sedikit tahu dari siaran CigaTV, panen raya merupakan salah satu moment menarik di Ciptagelar. Dimeriahkan oleh baris angklung. Padi (pare) dipanen setangkai demi setangkai dengan ani-ani atau ketam. Dikelompokkan sesuai arah lengkung tangkai padi. Diikat. Dijemur sampai kering selama 1 bulan pada lantayan (rangkaian bambu). Apabila sudah kering dimasukkan ke lumbung padi (leuit). Sampai padi selesai di panen semua, kemudian diadakan acara syukuran yang dikenal sebagai festival serentaun.

image
Kasepuhan Ciptagelar

Masih biasa aja menyisakan nasi di piring? Yuk, berkunjung ke Ciptagelar bergabung dengan emak-emak mencipta irama mengayunkan alu ke lesung memisah sekam dari beras atau membantu nini-nini berpeluh di depan tungku menanak nasi tak lupa mengipas, ngakeul sangu sebelum disajikan. ‘Peradaban bawah’ menuntut serba cepat dan praktis, tinggal pencet rice cooker sambil mengerjakan hal lain nasi sudah matang. Proses yang kurang dihargai seringkali membuat kita remeh temeh mengkerdilkan nilai hasilnya.

Ciptagelar, 7-8 Mei 2016

Posted in Traveling

Sampaikan Rinduku untuk Kelimutu

 

Tulisan panjang di salah satu sisi pagar Danau Kelimutu menjedaku menyeruput kopi. Diam-diam kutepuk pipi bulat ini, memastikan bahwa kedatanganku kesini adalah traveling dengan segenap jiwa raga bukan hanya jiwa untuk menghadap Konde Ratu seperti tulisan itu.

Jangan terlalu dihayati nanti bulu kudukmu berdiri. Jangan bawa-bawa hayati, dia sudah lelah…eh

Bagi penduduk setempat, Danau Tiga Warna Kelimutu ini merupakan tempat mistis. Tiwu Nuwa Muri Koo Fai adalah danau kawah tempat bersemayamnya jiwa-jiwa muda-mudi yang meninggal. Tiwu Ata Polo adalah danau kawah tempat berkumpulnya jiwa-jiwa yang telah meninggal ketika hidupnya suka melakukan kejahatan. Sedangkan Tiwu Ata Mbupu adalah danau kawah berkumpulnya jiwa-jiwa orang tua yang telah meninggal.

Terlepas dari kesakralannya, Danau Kelimutu patut masuk travel bucket list karena mempunyai keunikan. Keunikan Danau Kelimutu bukan saja karena memiliki 3 warna yang berbeda namun ketiga danau tersebut warnanya bisa berubah dalam waktu tertentu tanpa bisa diprediksi sebelumnya. Perubahan ini disebabkan kandungan mineral, cuaca, dan aktivitas vulkanologi. Suku Lio mempercayai perubahan warna danau sebagai pertanda peristiwa besar di negara kita.

image
Tiwu Nuwa Muri Koo Fai, 2 Mei 2015 (photo credit: M. Chandra Irawan)

 

image
Tiwu Ata Polo, 2 Mei 2015 (pict by: riennaku)
image
Tiwu Ata Mbupu, 2 Mei 2015 (photo credit: M. Chandra Irawan)

Hampir setahun berlalu tapi perjalanan ke Kelimutu masih melekat dalam ingatan. Lekat karena terlalu indah dilupakan, terlalu sedih dikenang. Indah pesona alam timur Indonesia memang keterlaluan. Sedih kalau ingat biayanya hiks… Untuk perjalanan ke Indonesia timur perlu merogoh kantong lebih dalam. Harga tiket masuk ke Danau Tiga Warna Kelimutu sebenarnya relatif murah untuk wisatawan domestik Rp 7.500 sedangkan wisatawan asing 30 kali lipat yaitu Rp 225.000. Tapi harga tiket pesawatnya…You know lah. Tidak ada penerbangan dari Jakarta langsung ke Ende, kami ambil rute penerbangan Jakarta – Kupang – Ende. Alternatifnya Jakarta – Denpasar – Ende atau bisa dari Maumere baru jalan darat ke Ende. Rajin-rajinlah cek dan membandingkan supaya dapat harga tiket pesawat yang terbaik. Tak heran kalau banyak yang masih nyinyir ngapain ke timur mending ke luar negeri.

Kami harus berangkat pagi buta dari tempat menginap di pondok Hidayah desa Moni ke desa Pemo supaya tidak melewatkan sunrise Kelimutu. Danau Kelimutu dikenal sebagai salah satu tempat terbaik di dunia untuk menikmati sunrise. Sebenarnya mata masih terasa berat dan nyawa belum sepenuhnya terkumpul saat driver mengetuk pintu penginapan dan berkata kita segera berangkat. Gegara semalam begadang nungguin air untuk mandi. Dengan bekal secukupnya kami bergegas menuju mobil yang telah kami sewa untuk 6 hari di Flores. Perjalanan menembus pagi yang gelap dan dingin, melewati jalur berkelak-kelok ditempuh dalam waktu sekitar 30 menit lumayan untuk mengusir rasa kantuk.

Akhirnya kami tiba di gerbang Taman Nasional Kelimutu, Desa Pemo, Kecamatan Kelimutu, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur. Rasanya masih seperti mimpi kaki ini menjejak tanah Ende untuk melihat dengan mata sendiri keunikan dan keindahan Danau 3 Warna Kelimutu yang sebelumnya saya lihat di lembaran uang lima ribu rupiah. Padahal untuk bermimpi kesini pun saya tak berani.

Never underestimate your own strength. You were born for a purpose and are blessed with the power to achieve it  ~Leon Brown

 

image
suatu pagi menapaki anak tangga gunung Kelimutu, andaikan setiap pagi bisa berada di titik dan sisi bumi yang berbeda

Spot untuk menikmati matahari terbit Kelimutu adalah di tugu, berada di ketinggian 1640 mdpl. Di pelataran tugu pemandangan yang terdekat adalah Tiwu Nuwa Muri Koo Fai yang bersebelahan dengan Tiwu Ata Polo, dipisahkan dinding tebing. Konon mitosnya jika kedua kawah ini menyatu maka dunia berakhir. Sisi ini paling ramai pengunjung yang menantikan momen sunrise dari sisi kiri Tiwu Muri Koo Fai. Sedangkan Tiwu Ata Mbupu lokasinya terpisah dari kedua danau tadi, berada di sisi kiri tangga arah ke tugu. Danau ini sepertinya agak luput dari perhatian pengunjung. Menurut saya danau yang ketiga ini terkesan tenang dan damai. Terlihat sejuk karena dikelilingi pepohonan mungkin ini perlambang sifat bijak para arwah orang tua yang bersemayam disana.

image
suasana di pelataran tugu Danau 3 Warna Kelimutu

 

Sayang kabut setia memeluk pagi di atas danau. Bahkan belum lama matahari memancarkan sinarnya sudah disusul gerimis. Sebaiknya sedia payung atau jas hujan kalau berkunjung ke Kelimutu. Cuaca disini suka cepat berubah. Betapa beruntungnya kami saat itu, seorang bapak penjual kopi dan kain tenun ikat Lio berbaik hati merelakan terpalnya untuk kami berteduh bukan menutupi dagangannya.

11028349_10206922446887765_5715972040924223992_n
Penjual kopi dan kain tenun ikat Lio di tugu, Danau Kelimutu

 

image
Senangnya kami anak komplek piknik ke Kelimutu (Anet, Dudi, Rienn(aku), Tommy, Monlin, Neneng, Ira)

 

Sebagian pengunjung dan pedagang sudah meninggalkan tugu. Kami masih belum puas foto-foto, bermain dengan anak-anak penjual kopi, memberi makan anjing sampai gerimis datang lagi. Kali ini kami berlari-lari meninggalkan tugu, berteduh di pos yang dekat dengan Tiwu Ata Polo. Kami lanjutkan menikmati suasana di danau kawah warna hitam. Lebih berhati-hatilah apabila berada disini. Bukan karena tempat bersemayamnya jiwa-jiwa jahat tetapi area ini memungkinkan pengunjung menginjakkan kaki diluar trek aman. Safety first! Dari baju kering, basah, hingga kering lagi rasanya masih ingin berlama-lama di Kelimutu. Tapi karena banyak destinasi menarik di Flores dan waktu kami yang terbatas, kami putuskan untuk kembali ke Moni dan melanjutkan perjalanan 10 hari overland Flores – Labuan Bajo.

 

image
Sampaikan rinduku untuk Kelimutu jika kamu berkesempatan mengunjunginya. Ceritakan padaku warna-warni apa yang diperlihatkannya.

 

Ende, 2 Mei 2015
perjalanan hari kedua, 10 hari overland Flores Labuan Bajo

Posted in Uncategorized

Sagu Mentawai

Sepengetahuan saya, sagu adalah makanan pokok khas saudara-saudara kita yang ada di wilayah timur Indonesia, seperti Papua dan Maluku. Ternyata di wilayah barat propinsi Sumatera Barat, tepatnya masyarakat hulu pulau Siberut yaitu suku Mentawai juga mengandalkan sagu sebagai makanan pokok. Selain menjadi makanan pokok, sagu juga menjadi makanan ternak.

Saat kami turun dari pompong terdengar suara  kentongan bertalu-talu. Sepertinya tidak jauh sumber suara itu. Ahh benar, suara kentongan dari rumah Sikerei yang akan kami kunjungi. Mungkin begitu cara mereka menyambut tamu. Saya jadi teringat saat berkunjung ke Wae Rebo, kalau di Wae Rebo justru tamu yang membunyikan bambu di pos sebelum diijinkan memasuki halaman rumah kerucut itu. Kami datang dengan senyum sumringah menapaki tangga rumah panggung yang terbuat dari sebatang kayu. Kami mulai curiga kenapa kentongan masih saja dipukul ketika kami sudah masuk rumahnya. Oh, ternyata istri Sikerei bukan sedang menyambut kedatangan kami tapi sedang memanggil babi-babinya untuk makan siang. Haha nggak perlu baper kalau bukan tamu yang gila hormat lebih baik jadi tamu yang menghormati tuan rumah.

image

Mungkin babi-babinya main agak jauh hingga tak mendengar dipanggil terus. Coba lempar potongan batang sagu ke halaman, babi-babi tak juga datang. Keisengan kami muncul, kami bantu memukul kentongan lebih keras dengan kode seperti B-A-B-I, B pukul 2x, A pukul 1x, B 2x pukul, dan I 9x pukul. Nah, belum juga sampai 9 pukulan untuk huruf I gerombolan babi muncul di depan rumah. Potongan batang sagu yang kami lempar disikat berebutan.

Pohon sagu yang ditebang sebagian batangnya dibiarkan membusuk menjadi media tumbuhnya larva kumbang merah. Larva ini juga dijadikan santapan bagi suku Mentawai. Setelah panen dan mencicipi ulat sagu bersama Sikerei, kami bersama istri Sikerei mencari daun sagu.

image
mencari daun sagu di Mentawai

Hanya selemparan batu dari rumah Sikerei, kami sudah bisa mendapatkan daun sagu. Daun sagu akan dipakai untuk membungkus stik sagu. Hmm, yummy sepertinya.

Bahan stik sagu sudah dipersiapkan tuan rumah. Nggak mungkin kalau kami harus mengikuti prosesnya dari awal, karena proses mendapatkan bahan sagu ini juga tidak instan seperti halnya menunggu munculnya larva-larva kumbang merah di batang sagu. Penanaman pohon sagu tidak mengenal musim tetapi baru bisa dipanen setelah 8 tahun. Pohon sagu yang siap dipanen ditebang, diambil daging batangnya lalu disimpan dan diperas hingga menjadi semacam dedak. Bahan sagu ini kemudian diparut menjadi tepung sagu. Proses dari penebangan hingga menjadi bahan sagu bisa memakan waktu 1 bulan. Dari 1 pohon sagu ini bisa menjadi persediaan bahan makanan pokok untuk 1 tahun.

image
proses membuat stik sagu Mentawai

Pembuatan stik sagu Mentawai sangat sederhana. Tepung sagu dibungkus 2 helai daun sagu. Satu helai daun sagu ditekuk sama panjang lalu dililit oleh 1 helai daun dari pangkal hingga ke ujung lalu dikunci dengan menyelipkan lilitan daun, tanpa tali tanpa lidi. Sehingga bentuknya menyerupai stik.

Setelah selesai membungkus, kita siapkan api untuk memanggang stik-stik sagu tersebut. Jangan lupa untuk membaliknya agar matang merata. Jika daun sudah coklat hitam tandanya stik sagu sudah matang. Krispi…hmmm mananam, kata istri Sikerei. Stik sagu disajikan dengan sayur dan lauk seperti layaknya kita makan nasi karena rasanya pun tawar tidak berbumbu. Tapi menurut saya ini mah snack! Belum makan kalau belum pakai nasi 😅

Posted in Traveling

Sariman Guide Kecil Baduy Dalam

Saya tersenyum geleng-geleng setiap teringat kepolosannya. Dia menggeletakkan botol minuman plastik di lantai, kemudian mengambil golok di dapur. Seperti orang yang sedang memotong leher ayam, dia kepayahan menggorok tutup botol itu. Haha, ajak dia naik turun bukit berkali-kali, tak sedikit pun tampak rasa lelah karena sudah terbiasa berjalan jauh dan menanjak. Tapi dia belum tahu banyak hal. Dia pikir golok yang selalu dibawa ayahnya adalah senjata andalan. Golok digunakan untuk apapun. Stop Sariman! Saya mengajarinya membuka tutup botol itu dengan tangan kosong. Mudah dan tidak melelahkan, dia nyegir mengakui ketidaktahuannya.

Sariman, bocah Baduy berusia 8 tahun, bersama ayahnya menjadi guide perjalanan saya ke bumi Kanekes, Baduy pada awal Januari 2016.

image
Sariman, guide kecil Baduy Dalam

“Cimangseuri” tunjuk Sariman ke sebuah kali kecil yang mengalirkan air jernih di depan kami. Dia tersenyum.
“Seuri,  senyum kan artinya?” tanyaku. Sariman tak menjawab. Ayahnya memberi penjelasan bahwa Cimangseuri ini salah satu batas wilayah Baduy Dalam dengan Baduy Luar. Sariman bermaksud memberitahu bahwa kita sudah keluar dari Baduy Dalam, jadi kita sudah diperbolehkan untuk berfoto.

Guide kecil ini peka betul kalau kami sudah tidak tahan untuk jepret. Selama 1 hari menginap di rumahnya, di Baduy Dalam, tanpa menyalakan HP dan kamera. Perjalanan ke Baduy adalah sebuah latihan mental tentang kejujuran dan komitmen. Salah satu larangan di Baduy Dalam adalah mengabadikan gambar baik dalam bentuk foto maupun video. Berkomitmen sebagai tamu dengan menghormati peraturan tuan rumah. Dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung. Kita mudah untuk membohongi orang lain namun tidak akan pernah bisa membohongi diri sendiri.

Sariman begitu menikmati apa yang dia kerjakan. Tidak ada keluhan capek atau rengekan minta gendong. Padahal sebelum menemani perjalanan ini, dia sudah berjalan jauh dari desa Cibeo ke Gajebo, membantu ayahnya memikul hasil panen durian atau kadu (bahasa sunda). Kemudian menemani perjalanan ini dari Gajebo ke rumahnya desa Cibeo dan mengantar saya pulang sampai ke Ciboleger. Saya perhatikan telapak kaki bocah ini memang khas Baduy, besar, telapak kaki sang pejalan hebat tanpa alas kaki.

Sariman masih lincah berjalan paling depan, sesekali berlari, dan bersembunyi. Dia bersiul memberi tanda keberadaannya, saya menyahut dengan siulan juga. Kalau suara terdengar dekat, Sariman akan keluar, just say hi, dan lanjut melangkah paling depan.

“Kang, tidak takut kalau anaknya tersesat?” tanyaku pada ayah Sariman. Ayah Sariman bercerita kalau anaknya sudah sering berjalan di sini. Bahkan Sariman pernah menunjukkan jalan pintas ke jembatan akar padanya. Entah dengan siapa saja anak ini sudah berkelana, mungkin hutan, sungai, huma atau ladang di bumi Kanekes ini sudah menjadi taman bermain baginya.

“Bunuh Yah!!” pekik Sariman membuat saya shock. Dia menggenggam sesuatu.
“Jangan ngomong begitu, mereka takut” balas ayahnya. Sariman membuka genggamannya, lalu diberikan benda itu ke ayahnya. Ohh, rupanya Sariman minta dikupaskan buah kaweni kecil yang dia dapatkan jatuh dari pohon. Bocah Baduy ini tidak membawa golok saat melakukan perjalanan seperti ayahnya. Baduy lelaki yang telah dewasa biasanya selalu membawa golok, diselipkan di pinggang. Saya shock dengan bahasa Sariman, serem amat. Sariman baru menguasai bahasa ibu yaitu bahasa Sunda dialek Banten, belum pandai berbahasa Indonesia. Anak-anak Baduy secara adat tidak diijinkan menempuh pendidikan formal. Sariman sebenarnya bukan bocah pendiam, tapi karena kendala bahasa inilah membuat kami tidak bisa mengobrol banyak dengannya. Tapi Sariman selalu berusaha menyimak setiap obrolan. Kalau mengerti dia akan menyahut. Kalau tidak mengerti dia hanya tersenyum.

image

Saya terus mengikuti langkah kaki guide Baduy kecil ini sambil menikmati suguhan asrinya alam Baduy. Dengan berjalannya waktu dan pertemuan dengan sejumlah orang dari luar sukunya, apakah bocah bersarung selutut, yang memakai ikat kepala dan baju lengan panjang putih, memakai gelang tali di tangan, mencangklong tas kain putih, berjalan tanpa alas kaki ini, mampu berpegang teguh dengan adat dan budayanya? Hingga dia dewasa tetap seperti ayahnya atau seperti uwanya yang memangku jabatan puun di desa Cibeo?

Perubahan akan selalu ada dan tak mungkin selamanya terbendung . Semoga suku Baduy tetap selaras dengan alamnya.

Posted in Uncategorized

Jalan Tanpa Jepret di Baduy Dalam

Ada saatnya belajar menikmati perjalanan tanpa gangguan sibuk jepret.  Sementara saya akan mengandalkan memori di kepala, menggantikan memori gadget untuk merekam apa yang saya lihat dan saya dengar. Simpan dulu gadgetnya dan rasakan.

Sebuah tanjakan curam sudah terlihat menanti kami di ujung jembatan bambu yang menghubungkan area Baduy Dalam dengan Baduy Luar. Duh, napas saya ngos-ngosan terdengar jelas sekali mengalahkan suara kincir bambu kolecer yang tertiup angin, pertanda orang mager. Berbeda dengan orang-orang Baduy yang kesehariannya berjalan kaki naik turun bukit, malahan sambil membawa barang yang tidak sedikit. Saya berhenti sejenak mengatur napas.

Ada penjual minuman keliling dengan membawa pail penuh dengan botol-botol air mineral dan isotonik menawarkan dagangannya. Entah dari mana datangnya, penjual ini tiba-tiba muncul di bukit seperti ninja. Kebetulan sekali persediaan air minum saya sudah habis, saya membeli satu botol air mineral.

Awan gelap mengusik kami untuk segera beranjak melanjutkan perjalanan. Masih jauh jarak yang harus kami tempuh. Kang Sanati, guide kami mengajak singgah di ladangnya. Wah menarik nih, saya pernah ke Baduy tahun lalu tapi tidak singgah ke ladang. Siapa tahu ada yang bisa dipanen buat dibawa pulang hehe.

Keputusan yang tepat untuk singgah di ladang. Baru beberapa menit kami duduk di bale-bale, hujan deras mengguyur bumi Kanekes. Sebenarnya kami pun sudah persiapan membawa jas hujan kalau mau tetap melanjutkan perjalanan. Tapi waktunya masih banyak jadi kami memilih untuk lebih menikmati perjalanan tanpa harus tergesa-gesa sampai di tujuan desa Cibeo.

Kang Sanati mempersilahkan kami masuk ke saungnya. Saya baru tahu, sebelumnya kalau ada orang Baduy bilang tidur di ladang, saya pikir mereka tidur di bawah pohon hehe. Ternyata rumah ladang itu benar-benar seperti rumah tinggal mereka, tertutup dan lengkap dengan perabotan untuk masak dan tidur. Saya menyebutnya rumah kedua, mereka tetap bisa beraktivitas seperti di rumah tinggalnya. Bedanya disini lebih sepi karena tidak ada tetangga.
“Kok ga ada jendela kang?” tanyaku. Memang begitulah rumah adat suku Baduy, tanpa jendela dan hanya ada satu pintu, katanya.

Menanti hujan reda, kang Sanati membuat  tas etnik yang berbahan pelepah pohon aren yang dijahit dengan kulit rotan. Teman saya memperhatikannya sesekali kang Sanati minta pendapat untuk memilih warna pelepah pohon aren yang bagus untuk variasi. Saat di ladang dia akan selalu membuat tas pelepah aren meskipun tidak ada pesanan dari tamu. Sementara saya memilih menggelar tikar pandan dan mengambil bantal kapuk, merebahkan badan sambil menyimak obrolan mereka.

Suku Baduy tidak mengenal perkawinan poligami juga perceraian. Seorang lelaki Baduy akan tinggal bersama selama hidupnya dengan seorang perempuan yang telah dipilihkan oleh orang tua lelaki. Makanya hanya ada satu pintu di setiap rumah Baduy, begitu tutur kang Sanati. Mungkin rumah Baduy seperti hati dan hanya ada satu pintu untuk satu orang yaitu pasangan hidupnya, jelas teman saya. Ahh, saya masih belum mengerti tentang filosofi satu pintu rumah Baduy ini, menurut saya kalau satu pintu semua aktivitas akan terpantau dengan jelas, jadi tidak akan mungkin berbuat sesuatu yang menjadi larangan adat.

Kami melanjutkan kembali perjalanan ke Cibeo. Tak lupa saya membawa buah-buahan dari saung kang Sanati, ada durian, nangka, dan kecapi. Senangnya melakukan perjalanan saat musim panen buah di Baduy. Melihat kesibukan orang Baduy memikul durian menuju ke Ciboleger. Kami sempat pesta durian di teras rumah kang Yayat, host kami di Baduy Luar. Karena banyaknya  durian yang sudah terlanjur dibelah, sampai-sampai ditawarin ke orang-orang yang lewat di rumahnya untuk mencicip. Ketika kami beristirahat sejenak di saung pembuat celempung (alat musik tradisional Sunda dari bambu), kami dipetikin buah markisa oleh pemilik saung dan dikasih sekantong plastik buah menteng. Serenteng rambutan tergeletak di tanah pun saya pungut, biar berkawan dengan buah-buah yang lain 😂.

Akhirnya sampai juga di rumah kang Sanati. Saya masih ingat ternyata rumah kang Sanati berhadapan dengan tempat saya menginap setahun sebelumnya. Hmm, rumah satu pintu, saya jadi memperhatikan pintu rumah suku Baduy karena teringat kata-kata kang Sanati. Tapi pakem satu pintu ini tidak berlaku di Baduy Luar, ada tiga pintu di rumah kang Yayat: depan, belakang, dan samping.

Kami berkumpul bersama tuan rumah menikmati kopi panas di gelas potongan bambu. Aromanya khas ditambah sangit air yang direbus dengan kayu. Istri kang Sanati tidak pemalu. Dia mau bergabung, ngobrol dengan tamunya sambil memangku anak bungsunya yang berumur 6  bulan. Begitu juga dengan Sariman, anak lelakinya yang menemani perjalanan kami dari Gajebo ke Cibeo, sepertinya dia mengerti bagaimana adab dikunjungi tamu. Dia memilih tidak bermain dengan teman-teman sebayanya di luar rumah. Sariman duduk bersama menikmati kopi dan berusaha menyimak obrolan kami. Kemudian datang anak sulungnya, perempuan cantik berumur 11 tahun ikut bergabung. Ia bercerita siang tadi menggendong 8 buah durian ke desa Cikeusik. Terasa sekali kebersamaan di keluarga ini. Setiap mengambil makanan, anak kang Sanati akan membagi ke saudara-saudaranya.

Dinginnya subuh membangunkan saya dari tidur. Seusai sholat, saya duduk terdiam di teras sambil memandangi langit yang bertabur bintang. Hujan semalam meninggalkan aroma sedapnya tanah basah. Tanpa gadget saya bertafakur. Tanpa gadget yang dekat tetap dekat.

(perjalanan tanggal 1-3 Januari 2016)